REPOSISI KILAU EMAS

Perkembangan ekonomi dunia yang semakin tidak dapat diprediksikan dan saling terkait melewati tapal batas negara dan bahkan nasionalisme menyebabkan masyarakat dunia kini harus memutar otak untuk menyelamatkan dirinya masing-masing dari dampak negatif global tersebut. Masyarakat dihadapkan pada pola pergaulan dunia yang semakin datar, berita di suatu negara yang berjarak ribuan kilometer dapat dengan segera diketahui di negara lain, produk yang mungkin dulu hanya ada di belahan dunia barat kini dengan mudah didapatkan di belahan bumi timur. Semua itu tentu saja membawa dampak positif maupun negatif. Dampak posifit tentu saja  ada, tetapi dampak negatif dari fenomena tersebut tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Kemajuan IPTEK yang telah membuat dunia hanya selebar daun kelor tersebut sedikit banyak telah mempengaruhi pola konsumsi dari masyarakat di Indonesia.

Masyarakat Indonesia dipaksa untuk mulai bergaya dan bersosialita sebagaimana masyarakat di dunia lain bergaya dan bersosialita. Memang selama ini pola konsumsi masyarakat Indonesia membawa dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi dampak pertumbuhan tersebut sangatlah rapuh karena pola konsumsi masyarakat Indonesia mayoritas bukan pada produk keluaran dalam negeri. Namun itu bukan urusan kita, itu adalah urusan dari para pejabat negeri ini untuk mencari solusi atas masalah tersebut. Urusan kita adalah bagaimana kita sebagai masyarakat dari negeri yang dikategorikan negeri berpenghasilan menengah ini dapat terus eksis berjalan seiring seirama dengan perkembangan dunia yang semakin “datar” ini.

Sebagai negeri yang sedang berkembang dan berpenduduk masyarakat berpenghasilan menengah Indonesia dihadapkan pada banyak faktor. Dalam lingkup makro, pemerintah sudah pasti ingin meningkatkan taraf hidup rakyatnya dari masyarakat berpenghasilan menengah ke atas menjadi masyarakat berpenghasilan atas. Hal ini sangat penting untuk mendapatkan perhatian karena masyarakat menengah ke atas Indonesia sangatlah rentan terhadap krisis sehingga dikhawatirkan akan mudah turun grade.

Dalam tataran mikro, masyarakat perkotaan Indonesia kini telah memasuki fase kehidupan yang tidak lagi berpikir tentang mau makan apa besok tetapi berpikir tentang mau makan di mana besok. Masyarakat seperti inilah yang sangat mendesak untuk diedukasi dalam hal manajemen pengelolaan keuangan. Dikhawatirkan apabila hal tersebut tidak dilakukan mereka akan terjebak dalam masyarakat konsumtif yang besar pasak daripada tiang karena hanya memperturutkan keinginan mereka semata.

Salah satu cara yang paling efektif sebagai upaya untuk membantu mereka mengelola keuangan mereka adalah melalui menabung. Gerakan menabung sempat populer pada tahun 1990-an. Bahkan dulu ada lagu khusus anak-anak untuk mengkampanyekan gerakan tersebut. Gerakan menabung selain sebagai upaya efektif untuk meredam gejolak akibat uang yang beredar juga efektif untuk meningkatkan derajat hidup seseorang. Pada dasarnya menabung tidak akan menambah nilai dari harta kita, kecuali kita menabung melalui instrumen yang tepat. Salah satu instrumen tersebut adalah emas. Sebagai komoditas yang sudah terkenal karena nilainya yang sangat stabil dan anti inflasi, emas dapat menjadi solusi bagi golongan menengah ke atas Indonesia untuk meningkatkan taraf hidupnya. Bahkan bagi kalangan berpenghasilan rendahpun emas dapat dijadikan sebagai alternatif solusi untuk mempertahankan posisi mereka agar tidak semakin memburuk di tengah-tengah semakin menurunnya nilai mata uang.

Sebagai tabungan, fungsi emas pada dasarnya sama dengan fungsi uang. Dia disimpan karena kita memiliki hajat akan hal tersebut, dan kemudian dikeluarkan dari tempat kita menyimpan ketika kita ingin memenuhi hajat tersebut. Berbeda dengan investasi, sebagai tabungan, pengeluaran emas dari tempat penyimpanan/tempat menabung tersebut tidak perlu didasarkan pada adanya fluktuasi harga karena memang niat awalanya bukan untuk mencari keuntungan dari adanya selisih harga yang berlaku. Adapun apabila terdapat keuntungan dari adanya selisih harga dikarenakan adanya penurunan dari nilai mata uang kita, bukan karena adanya kenaikan dari harga emas kita. Sebagai tabungan, emas adalah alat tukar dan alat pengukur nilai, sedangkan dalam investasi, emas diperlakukan sebagai komoditas (barang) dan sebagai alat spekulasi. Hal ini tentu saja dilarang dalam Islam yang menjunjung tinggi prinsip perekonomian yang dinamis dan melarang penimbunan. Bahkan penimbunan emas dengan dalih mencari keuntungan dari selisih harga emas untuk kemudian hasilnya digunakan untuk membangun sebuah sekolah agama atau fasilitas umum lainnya.

Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Ekonomi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s