Nasib Bahasa Negeriku

Bahasa merupakan suatu elemen yang sangat vital dalam perkembangan suatu peradaban. Bahkan bisa dikatakan kalau bahasa merupakan keharusan peradaban. Hal ini terjadi karena maju mundurnya suatu peradaban sangat tergantung dari adanya suatu identitas bersama, suatu entitas yang disepakati dalam interaksi keseharian manusia sebagai makhluk sosial, makhluk ekonomi, makhluk politik, dan bahkan makhluk religi. Indonesia sebagai suatu negara yang tersusun atas berbagai suku bangsa dengan berbagai ragam bahasanya juga membutuhkan satu bahasa sebagai keharusan peradaban yang dapat menjadi simbol pemersatu. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi titik pangkal lahirnya kesadaran kolektif mengenai harus adanya suatu bahasa yang dapat menjadi simbol pemersatu perjuangan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan, melawan penindasan, dan menjauhkan diri dari sikap menyamai bangsa asing yang telah menjajahnya. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam Kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda.

Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, pendidikan, dan media massa sangat besar dalam memodernkan Bahasa yang pada awalnya berakar dari Bahasa Melayu tersebut.

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia sejak SD hingga SMA, kita selalu diberitahu bahwa Bahasa Indonesia mengalami pertumbuhan terus-menerus, baik dalam kosakata maupun struktur. Namun itu semua tidak justru melemahkan posisi Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, tetapi justru memperkaya Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.

67 tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Kini Bahasa Indonesia secara formal seharusnya dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah. Namun yang terjadi selama ini di lapangan justru sebaliknya. Penulis ambil contoh dari kisah nyata yang sehari-hari penulis alami. Selama ini penulis lahir dan dibesarkan di lingkungan yang nyaris tidak pernah menggunakan Bahasa Indonesia. Penulis selama ini besar dalam lingkungan yang selalu menggunakan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia baru penulis pelajari ketika memasuki bangku sekolah. Bahasa Indonesiapun banyak penulis pelajari dari acara-acara di televisi, karena dalam keseharian di sekolahpun Bahasa Indonesia hanya digunakan pada waktu pelajaran Bahasa Indonesia, selebihnya dalam keseharian di sekolah baik itu dengan sesama murid maupun dengan guru, penulis banyak berinteraksi menggunakan Bahasa Jawa.

Yup..Bahasa Jawa, karena setiap orang tua di Jawa selalu menanamkan kepada para putra-putrinya untuk selalu menggunakan Bahasa Jawa yang baik dan benar dalam keseharian, sebagai upaya untuk “nguri-uri Kabudayan Jawi”. Kebiasaan berbahasa Jawa pun akhirnya tetap berlanjut hingga penulis beranjak dewasa. Memasuki bangku universitas yang notabene merupakan kawah candradimuka para pelajar dari berbagai daerah bertemu dan berinteraksi, keberadaan Bahasa Jawa tidak bisa dikecilkan begitu saja. Justru di kampus penulis pernah belajar, yang notabene merupakan Kampus Besar dan Favorit, serta menjadi jujugan para calon mahasiswa dari dalam dan luar negeri, Bahasa Indonesia justru menjadi Bahasa Nomor 2 dalam interaksi keseharian. Mungkin saja hal tersebut di dorong oleh jumlah populasi manusia “Jawa” yang berada di kampus tersebut. Namun yang pasti, banyak juga mahasiswa dari daerah lain yang sukses “dijawanisasikan” juga secara bahasa.

Ironi si Bahasa Nasional tidak sampai di situ saja, ketika penulis memasuki dunia kerja di pemerintahan, ternyata nasib si Bahasa Nasional tersebut masih tetap sama saja. Bahasa Indonesia seolah-olah hanya menjadi bahasa nomor satu dalam acara formal semata, tetapi ketika interaksi informal keseharian, Bahasa Indonesia harus merelakan diri untuk menjadi bahasa sekunder saja. Bahkan dalam interaksi antar suku pun kadang orang suku di luar Jawa harus bersusah payah menyesuaikan diri dan meraba-raba maksud pembicaraan antar orang yang kebanyakan menggunakan Bahasa Jawa. Ya seperti itulah nasib Bahasa Indonesia yang pernah diperjuangkan dengan harta dan nyawa para pendahulu kita, tetap belum bisa menjadi nomor satu dalam dunia perbahasaan sehari-hari di negeri ini.

Dalam ragam tulis pun kadang-kadang kita lebih merasa wah ketika kita bisa mengutip istilah-istilah asing yang sebenarnya itu bisa dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Dalam percakapan sehari-haripun kita akan lebih merasa modern dan gaul ketika kita bisa berbicara menggunakan bahasa campuran antara Bahasa Indonesia, dipadu Bahasa Asing (Korea misalnya yang sedang ngetrend), dan bahasa “elu gue” ala ABG alay (tau sendiri kan kalau ABG alay itu udah ngomong..apalagi udah nulis sms atau bikin status di jejaring sosial..bentuk tulisannya itu Bung yang Gak Nguatin.,.campur aduk deh pokoknya,,hehehe…) Di Pulau Jawa, Bahasa Indonesia sepertinya masih perlu disosialisasikan kembali agar mampu bersaing dengan Bahasa Jawa dalam keseharian kita. Penulis pun mulai belajar untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar walaupun harus dengan susah payah karena memang lidah penulis sepertinya sudah kelipat-lipat sehingga tetap kelihatan “medok” ketika mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Namun semua itu adalah tantangan yang mengasyikkan…ya gak masalahlah buat kita kalau sekali tempo kita diketawain temen kita karena Bahasa Indonesia kita yang “medok”..gak usah dipikirin..apalagi dimasukin ke hati..biarkan saja..dibikin nyantai saja..Masa kita yang sekarang tinggal menggunakan Bahasa Indonesia tanpa harus mengorbankan harta dan bahkan nyawa kita, masih saja ogah-ogahan menggunakan Bahasa Indonesia. Kasihan dong pengorbanan para pendahulu kita.

Jadi, mari kita hargai perjuangan para pendahulu kita dengan cara bangga berbahasa Indonesia secara baik dan benar tanpa mengesampingkan Bahasa Daerah kita dan Bahasa Asing lainnya sebagai bekal kita dalam berkompetisi dengan berbagai suku bangsa di dunia ini.

Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Sosial Politik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s