UNTUK KITA SEMUA

Setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri dan bagi yang sudah berkeluarga maka menjadi pimpinan bagi keluarga mereka masing-masing. Dalam suatu organisasi peran pimpinan sangatlah vital, maju mundurnya suatu organisasi ditentukan oleh para pemimpinnya. Oleh karena itu ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan oleh para pemimpin atau calon pemimpin, entah itu untuk organisasi swasta maupun organisasi nirlaba agar dia benar-benar dirasakan memimpin dan para pegawainya tidak merasa bahwa organisasi mereka dipimpin oleh “autopilot” (autopilot-suatu istilah yang sedang populer dan gampang ditemukan tertulis pada spanduk-spanduk yang terpampang di jalanan Ibukota), yaitu:
1. Memberikan Visi
Seorang pemimpin seharusnya mempunyai mimpi tentang apa yang dipimpinnya, karena melalui mimpi itulah suatu visi organisasi biasanya akan tercipta. Tanpa adanya suatu visi maka organisasi akan bergerak tanpa arah tujuan yang jelas sehingga seorang pemimpin sebagai nahkoda organisasi harus memiliki/menciptakan visi untuk memudahkan dirinya menempatkan diri dalam membawa organisasi ke arah tujuan yang jelas. Pemimpin seharusnya menjadi pihak yang paling mengerti tentang tujuan organisasi sehingga pemimpin dapat menginspirasi dan menginternalisasikan visi tersebut kepada anggota organisasi. Boleh saja suatu organisasi mengkontrakkan pembuatan visi dan misi organisasi kepada pihak ketiga (konsultan), tetapi pihak ketiga tersebut hanyalah sebatas mempercantik pembahasaan dari visi dan misi yang telah dibahas bersama oleh internal organisasi, yaitu pemimpin organisasi dengan para anggotanya. Hal tersebut penting sekali diperhatikan karena visi dan misi organisasi itu berbicara tentang arah gerak organisasi, dan pihak yang paling tahu tentang hal tersebut adalah pemimpin dan anggota organisasi tersebut sendiri.
2. Mengkomunikasikan Visi Misi Organisasi
Pemimpin harus mengkomunikasikan visi dan misi organisasi ke dalam internal organisasi ataupun ke luar organisasi tesebut. Mengkomunikasikan visi dan misi organisasi ke dalam internal organisasi adalah suatu cara untuk mendapatkan dukungan dan memberikan persamaan persepsi antar anggota organisasi mengenai output dan outcome yang hendak dicapai serta memberikan gambaran bersama mengenaik kekuatan dan kelemahan organisasi untuk dicarikan solusi bersama. Komunikasi ke luar organisasi adalah sebagai media untuk melakukan tindakan “menjual diri” terhadap produk maupun keberadaan organisasi kita, sehingga keberadaan organisasi kita akan semakin kokoh dan dikenal. Upaya mengkomunikasikan visi dan misi organisasi juga merupakan salah satu cara bagi pemimpin organisasi untuk membuat organisasi yang dipimpinnya dapat diterima oleh pihak luar dan keberadaannya bukan diaangap sebagai ancaman. Dalam proses mengkomunikasikan visi dan misi organisasi, peran pemimpin sangatlah vital karena seorang pemimpin akan dianggap mewakili organisasi sehingga seorang pemimpin harus mengetahui visi dan misi organisasi secara keseluruhan tanpa terlalu tergantung kepada juru bicara organisasi.
3. Mengoptimalkan Sumber Daya
Seorang pemimpin adalah penentu dalam suatu organisasi. Dia harus mampu mengkoordinasikan berbagai sumber daya dalam organisasi agar dapat berfungsi secara optimal. Suatu sumber daya organisasi baik itu manusia, uang, maupun peralatan yang bagus akan menjadi sia-sia ketika pemimpin organisasi gagal untuk memaksimalkan peran masing-masing sumber daya. Ambil contoh sumber daya manusia, dalam organisasi sumber daya manusia berfungsi sebagai aset yang sangat vital. Kegagalan kita dalam memaksimalkan sumber daya manusia dalam organisasi akan berimbas pada minimnya kontribusi mereka pada organisasi. Salah satu bentuk kegagalan dalam memaksimalkan SDM organisasi adalah dengan tidak memberikan mereka pelatihan yang baik. Banyak organisasi memberikan waktu dan dana yang berlebihan dalam perekrutan pegawai-pegawai terbaik, tetapi setelah para pegawai terbaik tersebut berhasil didapatkan proses terhenti sampai di situ. Tidak ada pengenalan, tidak ada orientasi, tidak ada pelatihan berkelanjutan bagi mereka. Alhasil para pegawai terbaik tersebut tidak mampu memberikan hasil yang optimal bagi organisasi. Banyak pemimpin organisasi terlalu berharap berlebih pada para pegawainya untuk memberikan hasil yang optimal bagi organisasi, tetapi para pemimpin organisasi tersebut lupa untuk memberikan pelatihan dan kesempatan yang maksimal bagi para pegawainya untuk mampu berkembang dan berinovasi. Bahkan lebih parahnya lagi apabila masih ada pemimpin organisasi yang menyuruh pegawainya untuk mengatur diri mereka sendiri dan membiarkan mereka saling berkoordinasi sendiri-sendiri tanpa arah yang jelas dengan dalih tugas pemimpin hanyalah “memimpin” (menyuruh dan menerima hasil). Pemimpin bukanlah orang yang berleha-leha dengan segala fasilitas yang mereka terima dan di sisi lain dengan tega membiarkan para pegawainya sempoyongan dengan berbagai tugas yang diberikan.
4. Memberi Bentuk
Keberadaan suatu organisasi ditentukan oleh proses bisnis yang dipilihnya. Seorang pemimpin selayaknya mampu memberikan arahan mengenai proses bisnis seperti apa yang akan digeluti oleh organisasi yang sedang mereka tempati tersebut. Pemimpin harus memberikan bentuk bagi organisasi yang dipimpinnya. Organisasi hanyalah sebuat alat untuk mencapai suatu tujuan. Cepat atau lambatnya suatu tujuan tercapai tergantung dari kemampuang positioning organisasi. Kemampuan positioning organisasi ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam memberikan arah dan bentuk bagi organisasi. Organisasi akan berjalan lambat ketika diisi oleh manusia-manusia yang lambat juga. Organisasi akan menjadi suatu alat yang berjalan dengan sangat pelan ketika desain organisasi terlalu kompleks, terlalu banyak kepentingan yang bermain di dalamnya, banyak peraturan yang menyulitkan, dan tidak ada ruang bagi organisasi untuk memperbaiki diri. Semua hal itu harus diketahui oleh pemimpin. Ketika pemimpin gagal untuk merencanakan dan memberikan bentuk suatu organisasi, maka pemimpin tersebut berarti sedang merencanakan suatu organisasi yang gagal.
5. Menjamin Kualitas
Seorang pemimpin organisasi adalah sosok yang selalu memberi warna dalam setiap kegiatan organisasi. Dia adalah ruh organisasi tersebut. Baik-buruknya organisasi sangat ditentukan seberapa berkualitasnya kepemimpinan seseorang. Seorang pemimpin selain harus dapat merencanakan dan menentukan arah gerak organisasi juga harus mampu memberikan jaminan kualitas bagi setiap tahapan dalam organisasi, mulai dari tahapan input, proses, output, hingga outcome. Seorang pemimpin harus mau turun ke lapangan dan melihat langsung kondisi riil para pegawainya untuk memastikan kinerja para pegawainya sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan. Apabila seorang pemimpin mau untuk turun langsung ke lapangan dan tidak hanya duduk di balik mejanya semata, maka pemimpin tersebut akan memiliki lebih banyak informasi yang dibutuhkan bagi pengembangan organisasi ke depannya. Toyota sebagai salah satu industri otomotif terbaik di dunia juga mengajarkan kepada para eksekutifnya untuk datang turun dan melihat langsung kondisi di lapangan untuk memastikan kualitas setiap produk yang mereka hasilkan. Organisasi berkualitas lahir dari pemimpin dan anggota organisasi yang berkualitas juga. Untuk menjadi pemimpin yang berkualitas, seseorang perlu untuk membangun disiplin diri melalu langkah-langkah sebagai berikut, yaitu mulai untuk berani mendisiplinkan diri sehingga lama kelamaan disiplin tersebut menjadi budaya kita, jangan terlalu berorientasi pada kelemahan orang lain tetapi berorientasilah untuk terus menerus memperbaiki diri, mulailah sesegera mungkin di saat orang lain sedang mulai untuk merencanakan perubahan diri, mulailah dari hal yang paling kecil, dan mulailah dari sekarang apabila kita ingin menjadi pemimpin yang berkualitas dan menginspirasi para pegawai kita. (dari berbagai sumber)

Pos ini dipublikasikan di Organisasi. Tandai permalink.

7 Balasan ke UNTUK KITA SEMUA

  1. Anonim berkata:

    1. Memiliki visi dan “memberikan” visi.
    Visi bukanlah sekedar cita-cita dan mimpi…apalagi mimpi di siang bolong. Visi hanya bisa dimiliki oleh orang yang sudah tercerahkan kesadaran inteleketual dan spiritualnya atau bahasa condongcaturinya adalah sudah dapet Hidayah. Sedangkan cita-cita ataupun mimpi semua orangpun bisa meskipun kerjaanya ya cuman twiteran, karokean, dan bikin2 proposal…he he he.
    Itu dulu deh..ntar nyambung lagi abal-abalnya…

  2. danangendrayana berkata:

    salam superr..super sekalian Bung Anonymous ini dalam memberikan komentarnya..dan saya berharap Bung Anonymous ini dalam memberikan komentarnya dalam keadaan sadar dan tercerahkan setelah membaca tulisan saya tersebut..karena komenannya Bung Anonymous Bin I.S. Al-Rawamanguniyyah Bin Jiliyyin tersebut dapat memberikan hidayah bagi setiap pemimpin abal-abal yang suka ndladrah…*colek Bung Munalisa Al Qudusiyah Bin Julkipli..emejingggg

  3. Munawar Jazuli berkata:

    hmmm… jangan salah bung Anonymous.. hidayah bisa didapat dimana dan kapan saja serta via apa saja.. barangkali dengan twitteran, karaokean dan bikin2 proposal itu merupakan salah satu dari jalan untuk mendapatkan hidayah tersebut.. jadi mungkin kedepan nanti kita bakal mempunyai pemimpin dengan visi jejaring sosial, tempat hiburan dan kecanggihan teknologi dikarenakan mereka merupakan salah satu dari produk hal-hal tersebut… Bagaimana dengan anda bung danang??

    • Anonim berkata:

      Salam kenal dulu bang munawar…, apa khabar..!!?
      Wah gak jeli nih bung munawar baca komenku. Emangnya aku menulis kalo twiterran, karokean, dan bikin2 proposal itu gak memungkinkan orang utk dapet hidayah. Kan yang ku bilang adalah “kalo cuman”….artinya seseorang tsb tidak ada basic yang fundamental dalam beraktivitas seperti tsb di atas….

  4. danangendrayana berkata:

    wah tolong ya Bung Munawar Gajuli..eh Jazuli dan Bung Indomirebus..eh Anonymous jangan saling berebut tempat karaokean di sini ya..apalgi sampe rebutan proposal..nanti soal proposal gampang saya bagi di luar kalau sudah ada hasilnya..hahaha

  5. Si Gussabal berkata:

    2. Mengkomunikasikan visi dan misi Organisasi:
    Istilah yang lebih tepat merepresentasikan point 2 ini adalah “mendakwahkan visi dan misi”. Dan dakwah bukanlah semacam kampanye minta dukungan tetapi dakwah adalah bentuk dari kepedulian dan perjuangan untuk senantiasa memberi dan memberi suatu manfaat tanpa pamrih. Jadi ada pendistorsian makna visi ketika orang yang mengaku bervisi ternyata hal tersebut sekedar alat kampanye minta dukungan.

    Contoh manusia bervisi adalah para Nabi. Beliau2 senantiasa berdakwah dalam rangka “menjajakan” kebaikan2 dengan tanpa pamrih dan tanpa sedikitpun berharap minta dukungan. Bahkan Nabi Muhammad SAW “dicegah” oleh Allah SWT untuk terbersit mengandalkan dukungan makhluk dalam dakwah beliau, sehingga Allah SWT mewafatkan Siti Khadijah dan Abi Thalib yang notabene memberikan seluruh dukungan moral dan material kepada Nabi. Tapi bukan berarti orang visioner dalam berdakwah itu menolak dukungan, tapi seyogianya menghindari suatu kampanye yang motifnya mencari dukungan. Sedangkan bila ada kegiatan kampanye, itu lebih bersifat untuk memberikan wacana pembelajaran bagi publik.

  6. Anonim berkata:

    emejingggg……super sekali komentar si GUssabal ini..mengkomunikasikan visi adalah bagian dari dakwah..dia adalah tabligh…salah satu dari tugas kenabian..seorang nabi harus menyampaikan visi besarnya kepada manusia melalui media tabligh yang dalam bahasa manajemen modern dikenal dengan istilah mengkomunikasikan visi..mengkomunikasikan tujuan akan keberadaan suatu entitas di dunia ini…*oiya mentraktir mie ayam juga merupakan sarana dakwah lho..bukan kampanye untuk mencari dukungan…hehehee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s