SECUIL KEPEMIMPINAN ISLAMI

SECUIL KEPEMIMPINAN ISLAMI
by Danang Endrayana Syeh Qodir on Thursday, 24 December 2009 at 11:21
Secuil Kepemimpinan Islami

Sebagai makhluk yang diciptakan Allah dengan segala kekomplekannya, esensi manusia adalah sebagai makhluk yang bertanggung jawab (QS. 23: 115) sesuai dengan eksistensinya sebagai makhluk individu, makhluk biologi, makhluk sosial, hamba Allah maupun sebagai seorang pemimpin. Sebagai seorang pemimpin manusia dikarunia nilai-nilai etestika fitrah yang sangat membutuhkan akan kedamaian, ketenteraman, kemakmuran, keamanan, keadilan, dan keindahan lingkungan. Sehingga pada tataran inilah nilai eksistensi manusia sebagai seorang individu yang masing – masing sudah dikarunia fitrah sebagai pemimpin diuji akan amanah tersebut.
Namun untuk mewujudkan kebutuhan – kebutuhan manusia tadi dia tidak dapat melakukannya seorang diri sehingga dia membutuhkan sebuah organisasi entah itu formal ataupun informal yang berfungsi untuk mengakomodir berbagai kebutuhan tersebut. Setelah terbentuk organisasi tersebut ternyata organ tersebut masih belum bisa berjalan, maka dibutuhkanlah sesosok orang yang dianggap mampu untuk menjalankan organ tersebut, Sosok itulah yang kemudian sering disebut dengan pemimpin.
Seorang pemimpin adalah orang yang mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa
dengan menggunakan resources yang biasa. Untuk itulah seorang pemimpin adalah orang – orang yang memiliki kelebihan dibanding orang – orang yang ada disekitarnya. Kalau kita menengok kepemimpinan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin, dapat kita ambil pelajaran bahwa orang – orang itu (Khulafaur Rasyidin) dapat diangkat menjadi pemimpin karena :
1. Mereka adalah orang – orang yang menaati Allah dan Rasulnya sebagaimana perintah Al –Qur’an dan As-Sunah.
2. Kejujuran dan keikhlasannya dalam mempertanggungjawabkan apa – apa yang telah menjadi amanahnya kepada rakyat (QS. 4: 58 – 59)
3. Keadilan yang muthlaq terhadap segala lapisan dan golongan manusia entah itu muslim ataupun non muslim (QS. 4 : 58 – 59)
4. Pengetahuan dan kearifan yang tinggi adalah dasar dalam menetapkan sesuatu kebijakan, selain itu ketegasan adalah tameng dalam pelaksanaan kebijkan tersebut.
5. Kedaulatan dari masyarakat.
Sebagai sosok yang sangat menentukan dalam arah pergerakan suatu organisasi entah itu formal ataupun informal, peran pemimpin sangat fleksibel sekali. Di satu sisi ia berperan sebagai sosok yang tegas dan keras (dalam hukum) dan di sisi lain ia berperan sebagai sosok yang lemah lembut dan penuh pengertian (dalam pergaulan).
Di satu waktu ia berada di garda terdepan memberi teladan, di waktu yang lain ia berada di posisi penunjuk jalan (misi organisasi) dan di lain waktu ia berada dalam posisi sebagai pemberi motivasi. Yang pasti seorang pemimpin itu harus berpikir, berbicara dan bertindak atas nama rakyat, bukan pribadi ataupun kelompok. Karena beratnya tugas ini maka dibutuhkan orang – orang yang benar – benar kredible dan bonafid, orang – orang yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Berpengetahuan tinggi, dalam hal ini tidak hanya pengetahuan akademisnya saja yang tinggi tetapi juga pengalaman dan kearifannya, karena ia akan mentahfizkan hukum – hukum Allah kepada semua golongan yang sangat plural. Orang yang berpengetahuan tinggi saja pasti akan berpikir bahwa jika ia terpilih sebagai Khalifah ia akan menerapkan hukuman potong tangan bagi pencuri, tetapi berbeda dengan orang yang berpengetahuan dan kearifan tinggi, orang seperti ini jika terpilih sebagai seorang Khalifah pasti yang terpikir olehnya adalah bagaimana caranya supaya hukuman potong tangan ini tidak sampai terjadi di wilayahnya.
2. Adil dalam bertindak sehingga umat Islam akan merasa terlindungi dan umat non muslim merasa diayomi, serta tidak menjatuhkan suatu keputusan berdasar dendam pribadi atau emosi sesaat. Karena kemarahan adalah seperempat dari kebinasaan. Dari Abu Darda’ ra, berkata ”Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang akan memasukkan aku ke dalam surga. Rasulullah bersabda “Jangan Marah, kamu akan masuk surga”. Mungkin kita dapat mengambil contoh dari peristiwa perang antara Ali dengan Muawwiyah. Di mana saat itu Ali sudah berada pada posisi siap menusuk Muawwiyah tetapi ia mengurungkan niatnya karena pada saat bersamaan Muawiyah meludahi Ali. Ali tidak ingin kalau ia membunuh Muawwiyah bukan karena Allah tetapi karena emosi sesaat ketika dia diludahi tadi. “Keadilan pemimpin satu hari lebih dicintai Allah daripada beribadah tujuh puluh tahun”, Sabda Rasulullah. Dan tidak ada keadilan tanpa sifat qonaah.
3. Kifayah, artinya bertanggungjawab, teguh, kuat, cakap untuk menjalankan pemerintahan, memajukan dan mensejahterakan rakyat, agama dan negara, serta sanggup membela ketiganya dari segala ancaman musuh. Kifayah ini juga berarti menjaga rakyatnya dari berbagai tindakan maksiat. Seorang yang didaulat menjadi pemimpin tidak bisa hanya berbangga hati dengan segala kelebihannya dan kebaikan yang ada pada dirinya sementara rakyatnya hidup dalam gelimang dosa. Seorang pemimpin juga harus mendidik rakyatnya untuk menjauhi segala “tindakan bodoh” serta membimbing mereka kepada jalan yang lurus dalam segala segmen kehidupan, karena pada hari akhir nanti setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas segala tindakan zalim rakyatnya. Sesungguhnya wakil yang paling berbahagia adalah wakil yang rakyatnya merasakan kebahagiaan juga, demikian pula sebaliknya.
4. Tidak memiliki suatu hal yang mempengaruhi pelaksanaan ketiga hal tadi dan yang pasti ia adalah orang yang dapat dipercaya dan memiliki kedaulatan dari masyarakat. Kita bisa mengambil contoh mengenai kepercayaan dan kedaulatan rakyat kepada pemimpinnya pada peristiwa penaklukan Spanyol oleh Umat Islam.
5. Memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi, dalam hal ini seorang pemimpin yang baik haruslah orang yang dapat memposisikan diri pada keadaan yang berkebalikan dari keadaannya sekarang. Dalam hal ini seorang pemimpin haruslah mampu dan mau memposisikan dirinya pada posisi rakyatnya. Pernah diceritakan bahwa Umar bin Khatab membatalkan pelantikan salah satu gubernurnya gara – gara persoalan yang menurut anggapan kita mungkin hanya peristiwa kecil. Peristiwa ini terjadi ketika Umar membicarakan persoalan yang sangat penting dengan calon gubernur (fulan) tersebut, tiba – tiba putra Umar datang dan mengajak Umar bermain, Umar pun kemudian membelai lembut putranya dan membiarkan putranya bermain di situ sementara dia berbincang dengan calon gubernur tersebut. Melihat kejadian tersebut si fulan merasa heran tetapi ia sungkan untuk bertanya perihal kejadian tadi. Setelah agak lama si fulan mulai memberanikan diri untuk mencari tahu kenapa di saat membicarakan persoalan yang sangat penting tadi ia tidak memarahi putranya tetapi malah mengajaknya bermain. Umar pun balik bertanya kepadanya, apa yang akan dia lakukan ketika menghadapi keadaan seperti tadi. Si fulan pun menjawab dengan bingung dan berkata kepada Umar bahwa ia belum pernah sekalipun membelai ataupun mencium anaknya. Mendengar penuturan si fulan tadi Umar pun marah dan membatalkan pencalonannya sebagai gubernur dengan alasan bahwa bagaimana mungkin ia akan memperhatikan dan mencintai rakyatnya, lha wong kepada anaknya sebagai pihak terdekat saja ia tidak pernah memperhatikannya.
Sebenarnya masih banyak sekali kriteria seorang pemimpin ataupun calon pemimpin yang baik. Suatu kriteria yang ditandai dengan karakter – karakter khusus yang hanya dapat dilihat melalui kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual. Namun yang pasti, memilih pemimpin itu seperti memilih jodoh, kita harus mempertimbangkan secara masak – masak bibit, bebet, dan bobotnya.
(Danang Endrayana S.Q.,S.I.P. – dari berbagai sumber)

Pos ini dipublikasikan di Organisasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s