PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Pertanyaan Dari:
Untung Sutrisno, Jl. Gn. Bentang 13 RT 05/13 Perum Panglayungan Tasikmalaya
(disidangkan pada hari Jum’at, 27 Syawal 1430 H / 16 Oktober 2009)

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Di kampung kami ada yang menyelenggarakan Maulid Nabi tapi ada sebagian yang mengatakan tidak perlu diselenggarakan. Bagaimana menurut Majelis Tarjih mengenai hal ini?
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Pertanyaan tentang penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw seperti yang saudara sampaikan pernah ditanyakan dan telah pula dijawab oleh Tim Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah. Untuk itu, kami sarankan saudara membaca kembali jawaban-jawaban tersebut, yaitu terdapat dalam buku Tanya Jawab Agama terbitan Suara Muhammadiyah Jilid IV, Cetakan Ketiga, halaman 271-274, Majalah Suara Muhammadiyah No. 12 Tahun Ke-90 16-30 Juni 2005 dan juga di Majalah Suara Muhammadiyah No. 1 Tahun Ke-93 1-15 Januari 2008. Namun demikian, berikut ini akan kami sampaikan ringkasan dari dua jawaban yang telah dimuat sebelumnya tersebut.
Pada prinsipnya, Tim Fatwa belum pernah menemukan dalil tentang perintah menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi saw, sementara itu belum pernah pula menemukan dalil yang melarang penyelenggaraannya. Oleh sebab itu, perkara ini termasuk dalam perkara ijtihadiyah dan tidak ada kewajiban sekaligus tidak ada larangan untuk melaksanakannya. Apabila di suatu masyarakat Muslim memandang perlu menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi saw tersebut, yang perlu diperhatikan adalah agar jangan sampai melakukan perbuatan yang dilarang serta harus atas dasar kemaslahatan.
Perbuatan yang dilarang di sini, misalnya adalah perbuatan-perbutan bid’ah dan mengandung unsur syirik serta memuja-muja Nabi Muhammad saw secara berlebihan, seperti membaca wirid-wirid atau bacaan-bacaan sejenis yang tidak jelas sumber dan dalilnya. Nabi Muhammad saw sendiri telah menyatakan dalam sebuah hadis:
عَنْ عُمَرَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ. [رواه البخاري ومسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari Umar ra., ia berkata: Aku mendengar Nabi saw bersabda: Janganlah kamu memberi penghormatan (memuji/memuliakan) kepada saya secara berlebihan sebagaimana orang Nasrani yang telah memberi penghormatan (memuji/memuliakan) kepada Isa putra Maryam. Saya hanya seorang hamba Allah, maka katakan saja hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
Adapun yang dimaksud dengan kemaslahatan di sini, adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad saw yang dipandang perlu diselenggarakan tersebut harus mengandung manfaat untuk kepentingan dakwah Islam, meningkatkan iman dan taqwa serta mencintai dan meneladani sifat, perilaku, kepemimpinan dan perjuangan Nabi Muhammad saw. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan cara menyelenggarakan pengajian atau acara lain yang sejenis yang mengandung materi kisah-kisah keteladanan Nabi saw.
Allah SWT telah menegaskan dalam al-Qur’an, bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah sebaik-baiknya suri teladan bagi umat manusia. Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. al-Ahzab (33): 21]

Wallahu a’lam bish-shawab. *amr)

Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
E-mail: tarjih_ppmuh@yahoo.com dan ppmuh_tarjih@yahoo.com http://tarjihmuhammadiyah.blogspot.com

Dipublikasi di Religi | Tinggalkan komentar

PERENCANAAN

Perencanaan, adalah kegiatan-kegiatan pengambilan keputusan dari sejumlah pilihan mengenai sasaran dan cara-cara yang akan dilaksanakan di masa depan guna mencapai tujuan yang diinginkan, serta pemantauan dan penilaian atas perkembangan hasil pelaksanaannya, yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Pengertian perencanaan sebenarnya … Baca lebih lanjut

Galeri | Tinggalkan komentar

UNTUK KITA SEMUA

Setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri dan bagi yang sudah berkeluarga maka menjadi pimpinan bagi keluarga mereka masing-masing. Dalam suatu organisasi peran pimpinan sangatlah vital, maju mundurnya suatu organisasi ditentukan oleh para pemimpinnya. Oleh karena itu ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan oleh para pemimpin atau calon pemimpin, entah itu untuk organisasi swasta maupun organisasi nirlaba agar dia benar-benar dirasakan memimpin dan para pegawainya tidak merasa bahwa organisasi mereka dipimpin oleh “autopilot” (autopilot-suatu istilah yang sedang populer dan gampang ditemukan tertulis pada spanduk-spanduk yang terpampang di jalanan Ibukota), yaitu:
1. Memberikan Visi
Seorang pemimpin seharusnya mempunyai mimpi tentang apa yang dipimpinnya, karena melalui mimpi itulah suatu visi organisasi biasanya akan tercipta. Tanpa adanya suatu visi maka organisasi akan bergerak tanpa arah tujuan yang jelas sehingga seorang pemimpin sebagai nahkoda organisasi harus memiliki/menciptakan visi untuk memudahkan dirinya menempatkan diri dalam membawa organisasi ke arah tujuan yang jelas. Pemimpin seharusnya menjadi pihak yang paling mengerti tentang tujuan organisasi sehingga pemimpin dapat menginspirasi dan menginternalisasikan visi tersebut kepada anggota organisasi. Boleh saja suatu organisasi mengkontrakkan pembuatan visi dan misi organisasi kepada pihak ketiga (konsultan), tetapi pihak ketiga tersebut hanyalah sebatas mempercantik pembahasaan dari visi dan misi yang telah dibahas bersama oleh internal organisasi, yaitu pemimpin organisasi dengan para anggotanya. Hal tersebut penting sekali diperhatikan karena visi dan misi organisasi itu berbicara tentang arah gerak organisasi, dan pihak yang paling tahu tentang hal tersebut adalah pemimpin dan anggota organisasi tersebut sendiri.
2. Mengkomunikasikan Visi Misi Organisasi
Pemimpin harus mengkomunikasikan visi dan misi organisasi ke dalam internal organisasi ataupun ke luar organisasi tesebut. Mengkomunikasikan visi dan misi organisasi ke dalam internal organisasi adalah suatu cara untuk mendapatkan dukungan dan memberikan persamaan persepsi antar anggota organisasi mengenai output dan outcome yang hendak dicapai serta memberikan gambaran bersama mengenaik kekuatan dan kelemahan organisasi untuk dicarikan solusi bersama. Komunikasi ke luar organisasi adalah sebagai media untuk melakukan tindakan “menjual diri” terhadap produk maupun keberadaan organisasi kita, sehingga keberadaan organisasi kita akan semakin kokoh dan dikenal. Upaya mengkomunikasikan visi dan misi organisasi juga merupakan salah satu cara bagi pemimpin organisasi untuk membuat organisasi yang dipimpinnya dapat diterima oleh pihak luar dan keberadaannya bukan diaangap sebagai ancaman. Dalam proses mengkomunikasikan visi dan misi organisasi, peran pemimpin sangatlah vital karena seorang pemimpin akan dianggap mewakili organisasi sehingga seorang pemimpin harus mengetahui visi dan misi organisasi secara keseluruhan tanpa terlalu tergantung kepada juru bicara organisasi.
3. Mengoptimalkan Sumber Daya
Seorang pemimpin adalah penentu dalam suatu organisasi. Dia harus mampu mengkoordinasikan berbagai sumber daya dalam organisasi agar dapat berfungsi secara optimal. Suatu sumber daya organisasi baik itu manusia, uang, maupun peralatan yang bagus akan menjadi sia-sia ketika pemimpin organisasi gagal untuk memaksimalkan peran masing-masing sumber daya. Ambil contoh sumber daya manusia, dalam organisasi sumber daya manusia berfungsi sebagai aset yang sangat vital. Kegagalan kita dalam memaksimalkan sumber daya manusia dalam organisasi akan berimbas pada minimnya kontribusi mereka pada organisasi. Salah satu bentuk kegagalan dalam memaksimalkan SDM organisasi adalah dengan tidak memberikan mereka pelatihan yang baik. Banyak organisasi memberikan waktu dan dana yang berlebihan dalam perekrutan pegawai-pegawai terbaik, tetapi setelah para pegawai terbaik tersebut berhasil didapatkan proses terhenti sampai di situ. Tidak ada pengenalan, tidak ada orientasi, tidak ada pelatihan berkelanjutan bagi mereka. Alhasil para pegawai terbaik tersebut tidak mampu memberikan hasil yang optimal bagi organisasi. Banyak pemimpin organisasi terlalu berharap berlebih pada para pegawainya untuk memberikan hasil yang optimal bagi organisasi, tetapi para pemimpin organisasi tersebut lupa untuk memberikan pelatihan dan kesempatan yang maksimal bagi para pegawainya untuk mampu berkembang dan berinovasi. Bahkan lebih parahnya lagi apabila masih ada pemimpin organisasi yang menyuruh pegawainya untuk mengatur diri mereka sendiri dan membiarkan mereka saling berkoordinasi sendiri-sendiri tanpa arah yang jelas dengan dalih tugas pemimpin hanyalah “memimpin” (menyuruh dan menerima hasil). Pemimpin bukanlah orang yang berleha-leha dengan segala fasilitas yang mereka terima dan di sisi lain dengan tega membiarkan para pegawainya sempoyongan dengan berbagai tugas yang diberikan.
4. Memberi Bentuk
Keberadaan suatu organisasi ditentukan oleh proses bisnis yang dipilihnya. Seorang pemimpin selayaknya mampu memberikan arahan mengenai proses bisnis seperti apa yang akan digeluti oleh organisasi yang sedang mereka tempati tersebut. Pemimpin harus memberikan bentuk bagi organisasi yang dipimpinnya. Organisasi hanyalah sebuat alat untuk mencapai suatu tujuan. Cepat atau lambatnya suatu tujuan tercapai tergantung dari kemampuang positioning organisasi. Kemampuan positioning organisasi ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam memberikan arah dan bentuk bagi organisasi. Organisasi akan berjalan lambat ketika diisi oleh manusia-manusia yang lambat juga. Organisasi akan menjadi suatu alat yang berjalan dengan sangat pelan ketika desain organisasi terlalu kompleks, terlalu banyak kepentingan yang bermain di dalamnya, banyak peraturan yang menyulitkan, dan tidak ada ruang bagi organisasi untuk memperbaiki diri. Semua hal itu harus diketahui oleh pemimpin. Ketika pemimpin gagal untuk merencanakan dan memberikan bentuk suatu organisasi, maka pemimpin tersebut berarti sedang merencanakan suatu organisasi yang gagal.
5. Menjamin Kualitas
Seorang pemimpin organisasi adalah sosok yang selalu memberi warna dalam setiap kegiatan organisasi. Dia adalah ruh organisasi tersebut. Baik-buruknya organisasi sangat ditentukan seberapa berkualitasnya kepemimpinan seseorang. Seorang pemimpin selain harus dapat merencanakan dan menentukan arah gerak organisasi juga harus mampu memberikan jaminan kualitas bagi setiap tahapan dalam organisasi, mulai dari tahapan input, proses, output, hingga outcome. Seorang pemimpin harus mau turun ke lapangan dan melihat langsung kondisi riil para pegawainya untuk memastikan kinerja para pegawainya sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan. Apabila seorang pemimpin mau untuk turun langsung ke lapangan dan tidak hanya duduk di balik mejanya semata, maka pemimpin tersebut akan memiliki lebih banyak informasi yang dibutuhkan bagi pengembangan organisasi ke depannya. Toyota sebagai salah satu industri otomotif terbaik di dunia juga mengajarkan kepada para eksekutifnya untuk datang turun dan melihat langsung kondisi di lapangan untuk memastikan kualitas setiap produk yang mereka hasilkan. Organisasi berkualitas lahir dari pemimpin dan anggota organisasi yang berkualitas juga. Untuk menjadi pemimpin yang berkualitas, seseorang perlu untuk membangun disiplin diri melalu langkah-langkah sebagai berikut, yaitu mulai untuk berani mendisiplinkan diri sehingga lama kelamaan disiplin tersebut menjadi budaya kita, jangan terlalu berorientasi pada kelemahan orang lain tetapi berorientasilah untuk terus menerus memperbaiki diri, mulailah sesegera mungkin di saat orang lain sedang mulai untuk merencanakan perubahan diri, mulailah dari hal yang paling kecil, dan mulailah dari sekarang apabila kita ingin menjadi pemimpin yang berkualitas dan menginspirasi para pegawai kita. (dari berbagai sumber)

Dipublikasi di Organisasi | 7 Komentar

MEMBANGUN IDEALISME & INTEGRITAS GENERASI MUDA SEBAGAI PENERUS TONGGAK PEMBANGUNAN BANGSA

Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari. Kata-kata tersebut tentu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Setiap ada acara yang berkaitan dengan kepemudaan ataupun melibatkan pemuda, entah itu acara formal maupun informal kata-kata tersebut seperti senjata ampuh yang berfungsi untuk mengingatkan kita akan betapa pentingnya peran kita, peran para pemuda dalam perjalanan Bangsa Indonesia. Melalui kata-kata itu para senior kita berharap banyak bahwa masa depan bangsa ini tergantung pada kualitas para pemudanya yang mengabdikan diri pada berbagai sektor kehidupan.

Ibarat orang memasak, pemuda adalah bahan utama yang akan disajikan dalam sebuah jamuan makan. Enak tidaknya rasa sajian utama tersebut sangatlah tergantung dari bumbu-bumbu yang diracik dan dimasukkan ke dalam bahan utama masakan tersebut. Begitu juga dengan para pemuda, ketika memasuki dunia kerja biasanya para pemuda tersebut masih membawa semangat perubahan dan pembaruan yang menjadi idealisme mereka ketika masih menjadi mahasiswa. Jarang sekali seorang mahasiswa tidak memiliki semangat tersebut. Semangat perubahan dan pembaruan dalam diri para mahasiswa tersebut biasanya diciptakan melalui kegiatan-kegiatan ekstra kampus yang bertujuan untuk membentuk karakter dan idealisme diri para mahasiswa sebagai agen perubahan

Para pemuda yang baru saja memasuki dunia kerja bukanlah para pemuda yang tanpa sikap dan tanpa idealisme. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sikap dan idealisme, tetapi dunia kerja adalah dunia baru bagi mereka. Ketika seseorang memasuki dunia yang baru, hanya ada dua sikap yang akan terjadi, yaitu mewarnai atau diwarnai. Semua itu tergantung kepada sikap diri para pemuda tersebut serta kondisi lingkungan dunia kerja dimana setiap hari ia banyak menghabiskan waktu. Bahan utama yang berupa semangat idealisme perubahan dan pembaruan itu harus tetap dijaga dengan diberikan bumbu-bumbu berupa keteladanan sikap satunya kata dan perbuatan dari para pemimpin dalam lingkungan kerja tempat mereka berada. Sehingga keberadaan pemuda dalam suatu organisasi ataupun lingkungan kerja mampu memberikan warna yang positif dan pembaruan yang bersifat transformatif, bukan malah diwarnai oleh lingkungan kerja yang telah tumbuh dan berkembang selama bertahun-tahun serta belum tentu bersifat positif dan membangun.

Dunia kerja adalah suatu lokus yang berbeda dengan dengan dunia kampus. Walaupun kedua lokus tersebut dibangun melalui suatu sistem birokrasi tetapi suasana kebatinan yang dibangun pada kedua lokus tersebut sungguh jauh berbeda. Dunia kampus adalah dunia mimbar kebebasan, di mana seorang mahasiswa diberikan kebebasan untuk mengaktualisasikan segala keinginannya sesuai dengan kaidah ilmiah yang ada dan berlaku dalam kampus tersebut. Sedangkan dunia kerja menuntut para ex-mahasiswa tersebut berperilaku dan mengaktualisasikan diri sesuai dengan visi dan misi keberadaan organisasi tersebut. Dalam dunia kampus, mayoritas penilaian berkutat pada bagaimana membangun hard skill seorang mahasiswa untuk dapat bersaing dalam dunia kerja, tetapi ketika memasuki dunia kerja seorang ex-mahasiswa tersebut dituntut untuk dapat memadukan hard skill yang dimiliki dengan soft skill yang harus dia miliki yang biasanya lebih menentukan dalam karirnya.

Dalam dunia kerja bahkan berlaku prinsip kesuksesan ditentukan oleh 80% attitude atau soft skill. Namun pada zaman dahulu, attitude ini diartikan sebagai sikap ataupun keahlian untuk selalu memberikan yang “terbaik”  pada atasan karena dianggapnya atasan adalah penentu kelancaran karir. Sikap seperti inilah yang kemudian melahirkan perilaku suka menjilat atasan dan berkembang menjadi budaya paternalisme asal bapak senang (ABS). Padahal salah satu soft skill yang sangat diperlukan dalam dunia kerja bukanlah memberikan yang terbaik pada atasan tanpa memiliki landasan keilmuan dan moral etika, tetapi pemberian terbaik kita harus didasarkan pada perilaku yang memiliki landasan moral dan etika serta dasar ilmiah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sikap inilah yang kemudian menjadi dasar kita dalam berperilaku dalam dunia kerja, yaitu sikap satunya pikiran, kata, dan perbuatan, yaitu sikap yang biasa dikenal dengan sebutan integritas. Perilaku yang selalu dilandasi oleh kekuatan moral yang membimbingnya dalam mengaktualisasikan kekuatan berpikir dan kebiasaan bertindak merupakan inti dari integritas.

Dalam dunia kerja, integritas juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan kerja. Suatu lingkungan kerja yang memiliki budaya kerja menjunjung tinggi integritas biasanya akan memiliki para pegawai yang memiliki tingkat integritas tinggi pula, begitu pula sebaliknya, bagi lingkungan kerja yang mengabaikan nilai-nilai integritas biasanya akan memiliki pola kerja dan lingkungan kerja yang tidak sehat. Pembangunan budaya kerja yang menjunjung tinggi nilai-nilai integritas tidak dapat dibangun sekejap saja, tetapi melalui suatu proses yang teramat panjang dan bermuara pada satu aspek, yaitu keteladanan pemimpin.

Dalam proses pengembangan organisasi, faktor kepemimpinan memiliki peran signifikan dalam membangun dan menginternalisasikan nilai-nilai integritas. Seorang pemimpin yang mampu memahami arti dan makna dari integritas serta bersedia untuk menerapkannya biasanya akan menjadi orang yang sukses dalam berorganisasi. Kesuksesan tersebut berupa kesuksesan dalam karir, kesuksesan dalam pencapaian tujuan organisasi, serta kesuksesan dalam mencetak generasi penerus organisasi yang mumpuni dan berintegritas tinggi.

Integritas menjadi kunci sukses kepemimpinan karena dengan adanya nilai-nilai integritas yang diyakininya, seorang pemimpin akan mampu bersikap dan bertindak secara benar pada saat yang tepat, karena dari situlah muara dari kepercayaan yang dia bangun dalam hubungan kerja maupun hubungan antar individu dalam keseharian. Nilai integritas juga akan menjadi penuntun para pemimpin untuk tidak mudah dikacaukan oleh hal-hal yang bersifat formal tetapi pada dasarnya menyesatkan karena tidak sesuai dengan kaidah legalitas maupun kaidah ilmiah yang berlaku. Melalui nilai integritas seorang pemimpin akan mampu membuat suatu keputusan yang objektif dan mampu melepaskan diri dari benturan kepentingan yang mungkin terjadi dan akan mempengaruhi kualitas keputusan yang dibuatnya.

Ketika seorang pemimpin mampu menerapkan kepemimpinan berbasis nilai-nilai integritas secara konsisten, maka hal itu menunjukkan keteladanan seorang pemimpin dalam membangun keyakinan dirinya dan diharapkan mampu mempengaruhi orang lain serta mampu menjadi daya dorong dan daya tarik bagi orang lain untuk lebih memahami makna dari integritas. Integritas bukanlah suatu kejujuran semata, tetapi kejujuran hanyalah salah satu bagian dari integritas. Seorang yang jujur bisa saja mengalami kesulitan ketika harus mengambil kebijakan yang dapat menyulitkan kepentingannya sehingga kebijakan yang dibuatpun akhirnya kualitasnya berkurang karena terpengaruh oleh kepentingan pribadi. Sedangkan orang yang berintegritas adalah orang yang mampu mengambil kebijakan secara adil dan objektif tanpa terpengaruh oleh konfilk kepentingan yang muncul dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Bahkan pemimpin yang berintegritas dapat dengan rela mundur dari proses pengambilan kebijakan ketika dalam proses pengambilan kebijakan tersebut terdapat kemungkinan terjadinya benturan kepentingan.

Menumbuhkembangkan keteladanan pemimpin dalam membangun integritas pada suatu lingkungan kerja sangatlah penting karena nilai integritas dapat menjadi pedoman dan penuntun dalam upaya membina  kepercayaan dan keyakinan,  meluruskan arti penting dalam merumuskan standar yang tinggi, landasan nilai yang sangat mempengaruhi kinerja, mendorong terbentuknya reputasi dan citra organisasi, mendorong orang untuk menghayati diri sendiri sebelum mendorong orang lain dalam bersikap dan bertingkah laku, serta mendorong orang untuk mencapai suatu prestasi.

Tanpa adanya keteladanan, nilai-nilai integritas tidak akan mudah terinternalisasikan dalam keseharian perilaku para anggota organisasi serta akan sulit mengharapkannya menjadi suatu budaya organisasi. Keteladanan menjadi inti dari internalisasi nilai integritas karena keteladanan adalah kesatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang muncul dari dalam diri seseorang. Sikap keteladanan ini kemudian akan memunculkan sikap kepemimpinan yang efektif. Sikap kepemimpinan efektif tersebut dapat lahir dari pemimpin formal organisasi ataupun pemimpin informal dalam suatu organisasi. Namun, keteladanan sepertinya akan lebih memiliki daya dorong dan daya tarik yang lebih kuat ketika muncul dan ada dalam diri pemimpin formal suatu organisasi. Hal ini disebabkan karena posisi si pemberi keteladanan adalah posisi yang strategis dalam menentukan arah kebijakan organisasi serta menguasai sumber daya organisasi yang dapat dimaksimalkan dalam upaya menginternalisasikan nilai-nilai integritas.

Apabila para pemimpin formal dalam organisasi mampu memberikan kepemimpinan berbasis keteladanan, maka para anggota organisasi tersebut akan terwarnai dengan keteladanan yang diberikan oleh para pimpinan organisasi. Apabila para anggota organisasi telah memiliki nilai-nilai integritas dan menerapkannya dalam keseharian, maka ketika ada pemuda-pemuda yang baru saja memasuki dunia kerja mereka akan mendapatkan contoh yang baik dari lingkungan kerja yang telah terwarnai oleh budaya kerja berbasiskan nilai-nilai integritas tentang bagaimana mengaktualisasikan kemampuan diri mereka serta cara untuk meraih kesuksesan pribadi dan organisasi melalui cara-cara yang bermoral dan beretika. Para pemuda seperti itulah yang nantinya akan mampu memberikan kontribusi yang luar biasa positif bagi kemajuan organisasi dan kemajuan Bangsa Indonesia di hari esok.

Pemuda merupakan makhluk sosial yang sangat penting dalam kehidupan bangsa. Pemuda Indonesia harus menjadi komunitas pembelajar sehingga kelak bisa menjadi calon pemimpin masyarakat atau bangsa yang  berbasis pada kekuatan ilmu dan intelektualitas. Kalau itu bisa terwujud, kelak akan lahir para pemimpin yang cerdas secara intelektual, spiritual, emosional, dan sosial. Pemuda Indonesia dituntut berpikir cerdas dalam makna luas yaitu memiliki kemampuan ilmu, penguasaan teknologi, daya analitik, kreatif, inovatif, profesional, dan berwawasan luas sehingga menjadi sosok intelektual yang lengkap atau mumpuni. Namun harus ditegaskan bahwa kualitas intelektual yang multi aspek tersebut harus disertai dengan kualitas keimanan dan ketakwaan yang tinggi sehingga mampu melahirkan sikap integritas dalam kehidupan sehari-hari.

Bangsa Indonesia yang masih dililit banyak masalah sungguh memerlukan potensi para pemuda yang cerdas dan berintegritas. Apabila pemuda sebagai elemen bangsa telah memiliki karakter tersebut, maka setelah menjadi pejabat atau pemimpin tentu tidak akan menjadi koruptor. Namun sebaliknya, kalau pemudanya saja sekarang doyan tawuran, menyontek, dan menyimpang dari norma serta nilai agama maka di kemudian hari akan menjadi elit dan pemimpin korup. Para Pemuda diharapkan dapat menerapkan segala ilmu yang telah dimiliki penuh dengan integritas dalam setiap peran yang mereka lakoni. Manfaatkan masa muda kita, masa sekolah/kuliah kita seoptimal mungkin, karena masa-masa itu tidak akan pernah kembali.

 

 

 

 

Sampingan | Posted on by | Tinggalkan komentar

REPOSISI KILAU EMAS

Perkembangan ekonomi dunia yang semakin tidak dapat diprediksikan dan saling terkait melewati tapal batas negara dan bahkan nasionalisme menyebabkan masyarakat dunia kini harus memutar otak untuk menyelamatkan dirinya masing-masing dari dampak negatif global tersebut. Masyarakat dihadapkan pada pola pergaulan dunia yang semakin datar, berita di suatu negara yang berjarak ribuan kilometer dapat dengan segera diketahui di negara lain, produk yang mungkin dulu hanya ada di belahan dunia barat kini dengan mudah didapatkan di belahan bumi timur. Semua itu tentu saja membawa dampak positif maupun negatif. Dampak posifit tentu saja  ada, tetapi dampak negatif dari fenomena tersebut tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Kemajuan IPTEK yang telah membuat dunia hanya selebar daun kelor tersebut sedikit banyak telah mempengaruhi pola konsumsi dari masyarakat di Indonesia.

Masyarakat Indonesia dipaksa untuk mulai bergaya dan bersosialita sebagaimana masyarakat di dunia lain bergaya dan bersosialita. Memang selama ini pola konsumsi masyarakat Indonesia membawa dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi dampak pertumbuhan tersebut sangatlah rapuh karena pola konsumsi masyarakat Indonesia mayoritas bukan pada produk keluaran dalam negeri. Namun itu bukan urusan kita, itu adalah urusan dari para pejabat negeri ini untuk mencari solusi atas masalah tersebut. Urusan kita adalah bagaimana kita sebagai masyarakat dari negeri yang dikategorikan negeri berpenghasilan menengah ini dapat terus eksis berjalan seiring seirama dengan perkembangan dunia yang semakin “datar” ini.

Sebagai negeri yang sedang berkembang dan berpenduduk masyarakat berpenghasilan menengah Indonesia dihadapkan pada banyak faktor. Dalam lingkup makro, pemerintah sudah pasti ingin meningkatkan taraf hidup rakyatnya dari masyarakat berpenghasilan menengah ke atas menjadi masyarakat berpenghasilan atas. Hal ini sangat penting untuk mendapatkan perhatian karena masyarakat menengah ke atas Indonesia sangatlah rentan terhadap krisis sehingga dikhawatirkan akan mudah turun grade.

Dalam tataran mikro, masyarakat perkotaan Indonesia kini telah memasuki fase kehidupan yang tidak lagi berpikir tentang mau makan apa besok tetapi berpikir tentang mau makan di mana besok. Masyarakat seperti inilah yang sangat mendesak untuk diedukasi dalam hal manajemen pengelolaan keuangan. Dikhawatirkan apabila hal tersebut tidak dilakukan mereka akan terjebak dalam masyarakat konsumtif yang besar pasak daripada tiang karena hanya memperturutkan keinginan mereka semata.

Salah satu cara yang paling efektif sebagai upaya untuk membantu mereka mengelola keuangan mereka adalah melalui menabung. Gerakan menabung sempat populer pada tahun 1990-an. Bahkan dulu ada lagu khusus anak-anak untuk mengkampanyekan gerakan tersebut. Gerakan menabung selain sebagai upaya efektif untuk meredam gejolak akibat uang yang beredar juga efektif untuk meningkatkan derajat hidup seseorang. Pada dasarnya menabung tidak akan menambah nilai dari harta kita, kecuali kita menabung melalui instrumen yang tepat. Salah satu instrumen tersebut adalah emas. Sebagai komoditas yang sudah terkenal karena nilainya yang sangat stabil dan anti inflasi, emas dapat menjadi solusi bagi golongan menengah ke atas Indonesia untuk meningkatkan taraf hidupnya. Bahkan bagi kalangan berpenghasilan rendahpun emas dapat dijadikan sebagai alternatif solusi untuk mempertahankan posisi mereka agar tidak semakin memburuk di tengah-tengah semakin menurunnya nilai mata uang.

Sebagai tabungan, fungsi emas pada dasarnya sama dengan fungsi uang. Dia disimpan karena kita memiliki hajat akan hal tersebut, dan kemudian dikeluarkan dari tempat kita menyimpan ketika kita ingin memenuhi hajat tersebut. Berbeda dengan investasi, sebagai tabungan, pengeluaran emas dari tempat penyimpanan/tempat menabung tersebut tidak perlu didasarkan pada adanya fluktuasi harga karena memang niat awalanya bukan untuk mencari keuntungan dari adanya selisih harga yang berlaku. Adapun apabila terdapat keuntungan dari adanya selisih harga dikarenakan adanya penurunan dari nilai mata uang kita, bukan karena adanya kenaikan dari harga emas kita. Sebagai tabungan, emas adalah alat tukar dan alat pengukur nilai, sedangkan dalam investasi, emas diperlakukan sebagai komoditas (barang) dan sebagai alat spekulasi. Hal ini tentu saja dilarang dalam Islam yang menjunjung tinggi prinsip perekonomian yang dinamis dan melarang penimbunan. Bahkan penimbunan emas dengan dalih mencari keuntungan dari selisih harga emas untuk kemudian hasilnya digunakan untuk membangun sebuah sekolah agama atau fasilitas umum lainnya.

Sampingan | Posted on by | Tinggalkan komentar

MANFAAT EMAS UNTUK MEWUJUDKAN IMPIAN

MANFAAT EMAS UNTUK MEWUJUDKAN IMPIAN

Pembangunan ekonomi merupakan gerak perubahan yang didambakan dalam Islam. Ekonomi Islam merupakan tatanan ekonomi yang bergerak berdasarkan nafas dan motivasi dari Al-Quran dan Sunah. Berdasarkan pemahaman itulah maka setiap gerak langkah dalam perekonomian yang mengatakan dirinya Islam ataupun syariah hendaknya mendasarkan diri pada  kesadaran mutlak akan keimanan yang bernilai amal shalih. Pesan ini dapat kita lihat dalam Quran Surat Al-Asri. Atas dasar amal shalih inilah maka setiap perbuatan kita akan mendapatkan kemapanan dalam kehidupan, kemudahan dalam mengamalkan ajaran agama, dan perubahan yang mengantarkan kita pada stabilitas dan ketenangan hidup.

Permasalahan ekonomi yang selama ini mengemuka antara lain masalah pemerataan pendapatan, kesempatan kerja, fluktuasi ekonomi dan krisis moneter. Namun semua itu pada hakikatnya bukanlah mutlak problem dari individu dalam masyarakat, tetapi sebagian besar adalah problem dari manajerial suatu negara. Sistem komunisme telah hancur, kini nampaknya sistem kapitalis juga akan segera menyusul. Islam sebagai suatu tatanan kehidupan tentu saja tidak akan membiarkan dunia hidup tanpa adanya suatu tatanan ekonomi di dalamnya. Islam hadir melalui tatanan ekonomi yang berdinamika pasar dinamis positif (normal). Pasar dinamis artinya sistem Islam tidak menghendaki adanya penumpukan kekayaan hanya pada satu pihak semata, tetapi hendak melakukan pemerataan pendapatan tanpa hendak masuk terlalu dalam di dalamnya, sehingga pasar akan dapat berjalan secara normal. Sistem positif ekonomi Islam adalah bahwa ekonomi Islam muncul untuk menggenapi pelaksanaan maqosidhus syariah. Tanpa adanya suatu tatanan ekonomi, mustahil maksud dari disyariatkannya Islam dapat tercapai.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Indonesia seharusnya sudah menerapkan sistem ekonomi Islam/sistem ekonomi syariah sejak lama. Namun sepertinya hal tersebut masih dalam angan setiap muslim di Indonesia karena tatanan politik ekonomi dunia belum memungkinkan bagi Indonesia untuk menerapkan sistem ekonomi Islam secara menyuluruh. Adanya fakta itulah yang menyebabkan praktik berlabel sistem ekonomi Islam/syariah saat ini masih berada dalam tataran mikro, tataran sistem perbankan.

Perkembangan lembaga moneter dewasa ini demikian pesat sehingga fungsi dan peran uang semakin berkembang pula. Semula uang berperan sebagai alat tukar dan pengukur nilai, tetapi  sekarang uang telah menjadi komoditas dan alat spekulasi. Sebagaimana diketahui, gerak moneter senantiasa menuntut pemerintah mewaspadai kondisi inflasi dan deflasi ataupun siklus ekonomi yang dapat membawa pada resesi. Hal-hal tersebut biasanya terjadi karena uang yang beredar tidak produktif, tidak efektif, dan tidak efisien penggunaannya. Metode yang selama ini digunakan dalam mempengaruhi uang yang beredar maupun arah penggunaannya adalah melalui mekanisme bunga dan kebijakan fiskal.

Metode bunga selama ini memang dianggap efektif untuk mempengaruhi jumlah uang beredar. Namun permasalahannya adalah metode bunga dianggap tidak cocok bagi sistem ekonomi Islam. Oleh karena itulah pada dasarnya selama ini Indonesia belum bisa murni terlepas dari sistem ekonomi konvensional dengan metode bunganya. Bahkan bisa jadi banyak kalangan perbankan akhirnya terjebak pada labeling sistem ekonomi syariah tanpa melibatkan substansi sistem tersebut dalam keseharian operasionalnya. Bisa jadi sistem bagi hasil yang selama ini digembar-gemborkan oleh banyak bank berlabel Islam/syariah sebenarnya hanyalah nama lain dari praktik bunga tersebut.

Menarik untuk dikaji adalah fenomena mengenai emas. Berbicara mengenai ekonomi Islam tidak akan dapat dilepaskan dari emas. Ibnu Khaldun menyatakan bahwa Allah menciptakan emas dan perak sebagai alat untuk mengukur nilai dari suatu barang. Bahkan penggunaan dinar dan dirham seakan-akan tidak dapat dilepaskan dengan sejarah perkembangan Islam.

Dewasa ini selain sebagai alat penguat mata uang sekaligus cadangan devisa suatu negara, emas juga berfungsi sebagai alat untuk mewujudkan mimpi-mimpi seseorang. Harga emas yang stabil dan cenderung mengalami kenaikan menyebabkan banyak orang mempertaruhkan hartanya dalam bentuk emas. Hal itulah yang kemudian menyebabkan emas dikenal dengan sebutan safe haven di kalangan para investor ataupun spekulator.

Investasi dalam bentuk emas kini bukan lagi monopoli dari para investor besar ataupun para spekulator, tetapi sudah meluas menjamah seluruh lapisan masyarakat. Berkebun emas, gadai emas, investasi emas hanyalah sedikit contoh dari respon kalangan perbankan terhadap semakin meningkatnya permintaan masyarakat akan safe haven tersebut. Sepertinya masyarakat tertarik dengan harga emas yang dalam jangka panjang memiliki kecenderungan seolah-olah mengalami kenaikan harga terus menerus. Namun sepertinya masyarakat terkecoh dengan fenomena ini, yang terjadi sebenarnya adalah adanya penurunan nilai mata uang sedangkan nilai dari emas itu adalah tetap karena nilai dari emas bukan dilihat dari apa yang tertulis dalam emas tersebut tetapi nilai intrinsiknya.

Melihat penjelasan singkat itu memang layak bagi kita untuk menggantungkan mimpi kita melalui pemanfaatan emas. Namun pemanfaatan itu bukan dalam bentuk investasi, tetapi dalam bentuk tabungan. Selama ini orang berinvestasi emas hanya untuk mencari selisih harga. Untuk mendapatkan selisih harga yang terbaik, seseorang harus menunggu saat yang tepat dan hal tersebut dapat berlangsug lama tergantung dari keinginan dan harapan masing-masing orang. Hal ini dapat menimbulkan perilaku yang tidak sehat dalam perekonomian, yaitu penimbunan emas. Emas adalah suatu alat tukar dan pengukur nilai sehingga dia bersifat sangat dinamis sebagaimana Tuhan menciptakannya dahulu. Ketika emas berhenti beredar dengan sebab ditimbun dikarenakan alasan untuk mendapatkan keuntungan melalui selisih harga yang ada maka ini jelas-jelas bertentangan dengan nila-nilai dari tata perekonomian Islam/syariah sehingga hukumnya adalah tidak boleh.

Berbeda dengan menabung emas, menabung emas adalah upaya untuk menyimpan emas dalam jangka waktu tertentu untuk digunakan kembali pada saat dibutuhkan tanpa melihat adanya disparitas harga yang muncul atau tanpa diniatkan untuk mencari/mendapatkan keuntungan dari adanya selisih harga yang ada. Adapun ketika si pemilik emas itu mendapatkan keuntungan dari adanya selisih harga yang ada, maka itu disebabkan adanya berkah dan rahmat dari Allah SWT terkait adanya penurunan nilai mata uang pada saat itu. Jadi salah satu perbedaan mendasar dari investasi dan menabung adalah dari niat awal dari kegiatan tersebut dilakukan.

Dalam Islam segala sesuatu dapat dinilai menjadi ibadah, maka ketika kita menggantungkan mimpi kita untuk berhaji misalnya, maka kita harus mewujudkan niat mulia kita itu melalui cara-cara yang diridhoi Allah SWT karena mimpi kita tersebut memiliki nilai ibadah. Kita ingin menyekolahkan anak kita, silakan saja kita menyimpan emas, tetapi keluarkanlah atau belanjakanlah emas itu pada saatnya, yaitu pada saat sebagaimana niat awal kita menyimpan emas tanpa memperdulikan fluktuasi harga emas yang sedang berlaku.

Islam menghendaki sistem perekonomian dalam 3 pijakan, yaitu ketakwaan dan akhlak yang baik, bersifat tolong menolong, dan aktivitas ekonomi dilakukan secara aktif dan positif ke arah terwujudnya maksud adanya syariah Islam, yaitu keselamatan umat manusia di dunia dan akhirat. Namun sebaliknya, apabila sistem ekonomi terlepas dari pijakan Islam maka orang akan mempertuhankan harta, saling bertipu daya, dan akan membentuk perilaku fasik dalam masyarakat. Emas harus difungsikan sebagaimana maksud awal diciptakannya oleh Allah SWT, yaitu sebagai media mewujudkan mimpi-mimpi anak manusia dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu emas harus tetap berfungsi sebagai alat tukar dan pengukur nilai melalui upaya kita menabung emas, dan bukan sebaliknya menjadi komoditas dan alat spekulasi melalui investasi emas.

 

Sampingan | Posted on by | Tinggalkan komentar